Minggu, 08 Desember 2013

Obat Diabetes Kronis

Obat Diabetes

Dunia kalah dalam perang melawan diabetes karena jumlah penderita diperkirakan melonjak hingga mencapai rekor sebanyak 382 juta orang tahun ini, kata pakar kedokteran, Kamis.


Mayoritas penderita mengidap diabetes tipe 2 - tipe yang berkaitan dengan kegemukan dan kurang olahraga - dan epidemi ini masih terus menyebar karena penduduk di negara berkembang mengadopsi gaya hidup kota di Barat.


Perkiraan terbaru dari Federasi Diabetes Internasional setara dengan prevalensi global sebanyak 8,4 persen pada orang dewasa dan dibandingkan dengan 371 juta kasus pada 2012.


Hingga 2035, organisasi tersebut memprediksi, jumlah penderita akan melonjak hingga 55 persen menjadi 592 juta.

obat diabetes


"Kita kalah dalam perang untuk mencegah orang terkena diabetes serta komplikasi yang menyebabkan kecacatan dan mengancam jiwa," kata federasi tersebut dalam edisi keenam Diabetes Atlas, dan menekankan bahwa kematian akibat penyakit ini mencapai 5,1 juta per tahun atau satu nyawa melayang dalam setiap enam detik.


Penderita diabetes tidak memiliki kemampuan cukup untuk mengendalikan gula darah yang bisa mengakibatkan berbagai komplikasi, termasuk kerusakan mata, ginjal dan jantung. Jika tidak diobati, penyakit ini bisa menyebabkan kematian.


"Dari tahun ke tahun, data ini tampaknya semakin buruk," kata David Whiting, pakar epidemiologi dan kesehatan masyarakat pada federasi tersebut.


"Di seluruh dunia kita melihat peningkatan jumlah penderita diabetes."


Ia mengatakan bahwa strategi yang melibatkan seluruh bagian masyarakat diperlukan untuk memperbaiki makanan dan mempromosikan gaya hidup sehat.


Federasi tersebut mencatat diabetes telah menyerap dana untuk perawatan kesehatan sebanyak 548 miliar dolar AS per tahun dan angka ini hingga 2035 diperkirakan meningkat menjadi 627 miliar dolar AS.


Hal yang mengkhawatirkan, diperkirakan sekitar 175 juta kasus diabetes belum terdiagnosa sehingga ada sejumlah besar penduduk yang menghadapi ancaman komplikasi tanpa mereka menyadarinya.


Sebagian besar diantara mereka tinggal di negara-negara berpendapatan rendah dan menengah dengan akses medis yang jauh lebih rendah dibandingkan Amerika Serikat dan Eropa.


Negara dengan angka penderita diabetes tertinggi adalah China, dimana angka kasus diperkirakan meningkat menjadi 142,7 juta pada 2035 dari 98,4 juta jumlah penderita saat ini.


Namun angka prevalensi tertinggi ditemukan di Pasifik Barat, dimana lebih dari sepertiga penduduk dewasa di Tokelau, Mikronesia dan Kepulauan Marshall sudah mengidap penyakit tersebut.


Perusahaan-perusahaan farmasi selama bertahun-tahun telah mengembangkan obat-obatan untuk mengatasi diabetes namun banyak pasien masih berjuang untuk bisa mengontrol kondisi mereka, sehingga mendorong terus dilakukannya pencarian langkah pengobatan.


Penelitian terbaru mengungkap bahwa beberapa jenis obat diabetes bisa menurunkan risiko kanker pada wanita hingga 30 persen. Hal ini berlaku pada wanita yang menjadi pasien diabetes tipe-2.


Hasil ini didapatkan setelah peneliti menganalisis data lebih dari 26.000 wanita dan pria dengan diabetes tipe-2. Peneliti membandingkan efek obat diabetes terhadap risiko kanker pada pria dan wanita, seperti dilansir MSN Health (06/12).


Beberapa obat diabetes yang bisa menurunkan risiko kanker termasuk insulin sensitizers, salah satu obat yang bisa menurunkan gula dalam darah, tingkat insulin, dan meningkatkan otot, lemak, serta respon lever pada insulin. Obat lainnya adalah insulin secretagogues yang bisa menurunkan tingkat gula dalam darah dan merangsang pankreas untuk membuat lebih banyak insulin.


Penggunaan obat diabetes pada wanita berkaitan dengan penurunan risiko kanker hingga 21 persen. Sementara penggunaan obat yang disebut thiazolidinedione diketahui bisa menurunkan risiko kanker hingga 32 persen. Namun hal yang sama tidak menunjukkan adanya kaitan pada pria.


Meski begitu, peneliti menekankan bahwa mereka belum menemukan adanya hubungan sebab akibat antara obat diabetes dengan penurunan risiko kanker pada wanita. Meski begitu, hasil ini bisa memberikan manfaat dalam penelitian selanjutnya mengenai pasien diabetes yang juga berisiko terkena kanker.


Tim mahasiswa Universitas Gadjah Mada Yogyakarta mengembangkan obat diabetes mellitus dalam bentuk sirup.ekstrak sirih merah.


"Salah satu senyawa yang terkandung dalam ekstrak air sirih merah yang telah diketahui mekanismenya sebagai antidiabetes adalah flavonoid," kata koordinator tim mahasiswa UGM Fera Amelia di Yogyakarta, Selasa.


Dalam menurunkan gula darah, kata dia, flavonoid memiliki mekanisme aksi antara lain menghambat aktivitas enzim a-glukosidase, menghambat oksidasi asam lemak, dan menangkap radikal bebas.


"Oleh karena itu, sirih merah (Piper crocatum) memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan menjadi fitofarmaka apalagi di Indonesia belum ada fitofarmaka untuk penyakit diabetes," katanya.


Menurut dia, hingga kini belum ada fitofarmaka di Indonesia yang berkhasiat sebagai obat diabetes.


Salah satu bahan alami yang dapat digunakan sebagai obat tradisional diabetes selama ini hanya daun sirih merah yang telah digunakan secara empiris di masyarakat.


"Untuk mengobati diabetes, masyarakat merebus tiga lembar daun sirih merah kemudian diambil sarinya untuk diminum, itu yang menjadi pertimbangan kami melakukan kajian tersebut," katanya.


Ia mengatakan hasil uji praklinis menunjukkan bahwa infusa sirih merah dapat menurunkan kadar glukosa darah.


Selain itu, infusa sirih merah juga tidak bersifat toksik sehingga aman jika dikonsumsi dalam jangka waktu yang lama.


"Keunggulan inovasi itu dibandingkan dengan obat diabetes yang sudah ada adalah bahwa esktrak sirih merah tidak bersifat merusak ginjal dan hati, sedangkan obat diabetes yang sering digunakan dalam terapi berefek merusak ginjal dan hati," katanya.


Menurut dia, pengembangan ekstrak air sirih merah menjadi sediaan antidiabetes oral inovatif dalam bentuk sirup itu dilakukan dengan hidroksi metilselulosa sebagai pengental dan sorbitol sebagai pemanis.


"Hidroksi metilselulosa merupakan polisakarida sehingga rasanya manis tetapi tidak dapat dihidrolisis menjadi glukosa. Dengan demikian, tidak akan meningkatkan kadar gula darah pada penderita diabetes mellitus," katanya.

0 komentar:

Posting Komentar